Pengorbanan, Dalam Arti Yang Sesungguhnya

6 Mei

#Turn On 9

Banyak pendapat yang mengemukakan, bahwa manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dengan memilki dua telinga dan satu mulut itu bukan tanpa maksud. Semua yang ada dalam diri kita ini tentu ada maksudnya. Jumlah telinga yang lebih dibandingkan mulut, dimaksudkan bahwa seharusnya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Namun, di masyarakat kita sering memperhatikan, banyak yang lebih banyak berbicara dan sedikit yang terlebih dahulu mendengarkan. Hasilnya, banyak pembicaraan yang tidak berisi. Jarang pembicaraan yang melahirkan ide baru, bahkan yang ada, hanya membicarakan apa yang menurut orang itu benar, terlepas dari yang dibicarakan itu benar atau salah.

Nabi Muhammad SAW berkata, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik, atau diam (Hadist Riwayat Imam Bukhari).

Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang suka mendengarkan dan membaca cerita orang lain. Selain memang suka, banyak manfaat serta pelajaran yang bisa dipetik. Walaupun terkadang kalau sudah asyik cerita suka berpanjang-panjang, dan ada juga yang menganggap saya cerewet juga, hehe. But it’s OK, No Problem at all, jika memang saya melakukan kesalahan, tolong jangan sungkan untuk menegur saya, insyaallah saya akan terima kritik dan saran anda demi perbaikan.

Cerita ini bermula tadi pagi, saat saya menghubungi ibu saya di Kudus. Walaupun saya berada di tempat yang jauh dari Kudus, insyallah saya selalu update informasi yang ada disana. Apalagi tentang keluarga saya. Paling lama biasanya saya tidak memberi kabar kepada orang tua saya adalah 4 hari, tentu saja ini karena pekerjaan dan menghindari kejenuhan. Selebihnya, rutin setiap 3 hari saya usahakan untuk menelpon orang tua saya. Bukan berarti saya tidak kuat di perantauan, namun ini adalah penegasan adanya keberadaan mereka untuk saya. Dan juga sebagai penebus kesalahan masa lalu, ketika masih kuliah, saya memang jarang menghubungi orang tua saya. Bukankah membahagiakan orang tua itu lebih utama dari apapun.

Ibu saya bercerita masih seputar guru saya yang meninggal beberapa hari lalu. Memang guru saya itu masih lajang. Namun umurnya masih hampir memasuki kepala empat. Belum berkeluarganya guru saya tersebut ternyata bukan tanpa alasan. Ia adalah anak pertama yang memiliki 3 adik kandung dan ayah kandungnya sudah meninggal ketika usianya dulu masih cukup muda. Ya bisa dibilang sudah menjadi tulang punggung keluarga saat adik-adiknya masih kecil. Ia rela mengorbankan dirinya untuk kesejahteraan adik-adiknya. Adiknya yang nomor dua dan tiga sekarang sudah berkeluarga dan mempunyai keturunan, sementara yang keempat masih berstatus sebagai anak kuliahan. Dan itu semua tidak lepas dari peran guru saya tersebut.

Memang keinginan dan kebutuhan terkadang tidak bisa disatukan. Kalau dibilang ingin menikah, pasti setiap orang yang sehat jiwa dan raganya tidak akan menolak untuk dinikahkan. Namun untuk beberapa kejadian, memenuhi kebutuhan yang ada lebih penting dari sekedar keinginan. Mungkin inilah yang saya asumsikan terhadap apa yang terjadi terhadap guru saya.

Memang benar, menikah itu tidak akan menyempitkan rizki seseorang. Allah telah menjamin rizki setiap hambaNya, itu pasti. Namun setiap orang juga memilki pilihan dalam hidupnya. Seperti guru saya, ia memilih jalan seperti ini pun pasti ada sebabnya, dan ia pasti juga tahu bahwa Allah sedang memberikan ujian bagi dirinya.

Berbeda dengan sebagian yang lain. Ada juga yang menikah tapi agak memaksakan kehendak pribadi. Coba kita pikir, orang tua mana yang menginginkan anaknya menjadi tidak bahagia. Yang selalu orang tua pikirkan adalah bagaimana anaknya itu menjadi lebih bahagia, menjadi lebih berhasil, dalam hal apapun daripada dirinya. Namun yang terjadi ya demikian itu, anak merasa sudah hebat dan pandai dalam memilih calon pendamping hidup, tidak lagi meminta pendapat orang tua, apalagi sampai tidak mendapat restu mereka.

Di kehidupan masyarakat banyak yang bisa kita lihat, jika ada yang menikah dengan memaksakan kehendak pribadi serta memaksa orang tua untuk merestui, akan banyak sakitnya daripada bahagianya. Padahal apa coba tujuannya menikah. Misal jika keluarga si laki-laki belum merestui benar, begitu juga keluarga si perempuan, maka setelah menikah, jika silaturahim ke tempat mertua, maka dipastikan akan banyak sakit hati yang timbul. Pergi ke tempat orang tua si Pria, pasti merasa tidak enak, begitu juga ketika pergi ke tempat mertua si perempuan, juga sama. Hal ini terjadi karena mereka sudah tidak dianggap, doa mereka bukan diminta, tapi dipaksa diminta.

Saya yakin para pembaca yang memperhatikan kehidupan di sekitar terkait dengan hal ini, bisa saja memilki lebih banyak pengalaman daripada saya.

Sedari kecil, dalam agama kita selalu diajarkan untuk menghormati orang tua kita. Setiap kata yang keluar dari orang tua adalah doa. Maka jangan sekali-sekali membuat orang tua mengeluarkan kata-kata yang kurang baik terhadap kita, bahaya, mendingan minta doa mereka, doa untuk keberhasilan kita, doa supaya Allah berkenan meluaskan rizki kita, mendekatkan jodoh kita, dan doa-doa lainnya. Bukankah Ridho Allah tergantung ridho orang tua kita juga bukan?.

Apa kita ingin hidup dengan sistim yang ada di barat sana?, seperti yang diceritakan guru bule saya yang berasal dari Belanda. Sistim Living together before marriage, tinggal serumah dulu, baru nanti setelah berjalannya waktu, ketika dirasa sudah sama-sama memahami dan mengerti, baru memutuskan untuk menikah. Lalu pertanyaanya, menikahnya kapan, kok malah maksiatnya yang terus menerus dilakukan. Iya jika bisa memahami, jika tidak? Iya kalau pisah belum punya anak, kalau sudah punya anak? Hayoo, bagaimana coba.

Para pembaca sekalian, inilah indahnya Islam dalam mengatur keseharian kita. Saya menulis seperti ini bukan berarti saya selalu benar dalam kehidupan saya, namun saya menulis seperti ini karena dulu saya pernah berbuat salah. Pernah memperhatikan orang lain tapi malah mengabaikan orang tua saya sendiri. Betapa ruginya saya. Namun saya sudah meminta maaf kepada orang tua saya, saya sudah menceritakan semua hal yang terjadi. Alhamdulillah orang tua saya bisa memaafkan saya. Prinsip saya sekarang adalah, “lebih utama memperhatikan dan menyenangkan orang tua, baru menyenangkan orang lain”. Kata-kata ini sebenarnya saya dapatkan dari saudara saya yang ada di Pekalongan, tapi menurut saya, kata-kata ini pas adanya.

Ibu, Ibu, Ibu, baru Bapak. Inilah urutan cara kita memperhatikan  orang tua kita, sesuai dengan anjuran Baginda Muhammad SAW. Orang tua kita telah berkorban jiwa dan raganya untuk kita, lalu pertanyaannya, apakah kita sanggup membalas semua kebaikan orang tua kita?

O.R. Nurse

Arsyad Syauqi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: