Cerita Tentang Teh Obeng

5 Mei

#Turn On 7

Alhamdulillah pagi ini saya tidak bangun kesiangan. Alhamdulillah saya pagi ini masih bisa shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh sekaligus shubuhnya, dan itu saya lakukan di asrama, karena memang tidak selalu di asrama. Ketika jadwal oncall dan malam ada cito operasi, saya harus berangkat ke rumah sakit dan melaksanakan operasi emergency bersama tim.

Anda pasti sudah paham dengan kondisi kota Batam yang penuh dengan pekerja. Pabrik dimana-mana. Pekerjanya hampir dari seluruh penjuru Indonesia. Kalau di Jakarta ada Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menampilkan bangunan serta bentuk rupa berbagai budaya di Indonesia, boleh saya katakan, Batam juga dapat dijuluki Kota Mini Indonesia. Anda dapat menemukan orang dengan berbagai latar belakang disini. Walaupun daerah ini masuk dalam jajaran territorial melayu, namun saya sangat jarang bertemu dengan orang yang berbicara melayu, seringnya saya malah dengar dari radio yang berasal dari Malaysia yang bercuap-cuap tentu dengan bahasa Melayu.

Kembali ke pekerja di Batam. Karena banyaknya pabrik yang ada, maka resiko terjadi kecelakaan kerja juga lumayan tinggi disini, entah yang kadang tangannya terjepit mesin, terkena gerinda, maupun yang tidak sengaja ujung jarinya terpotong. Seringnya memang terjadi di malam hari, faktor human error mungkin kali ya. Disamping itu, kasus kecelakaan disini juga lumayan tinggi, entah karena didukung dengan jalan raya disini yang memang bagus atau apa. Saya bilang bagus ini benar adanya. Bahkan sampai perkampungan pun, beraspal. Jadi kasus kecelakaan yang kadang mengakibatkan perdarahan di otak dan perdarahan dalam perut, sering terjadi disini. Kalau anda ada yang mau berkunjung kesini dan membawa kendaraan sendiri, saya sarankan hati-hati ya.

Lah, kok gak nyambung dengan judulnya. Sabar para pembaca, saya akan melanjutkan cerita.

Ketika pertama kali datang kesini. Saya pun langsung melempar candaan kepada teman-teman saya, “wah, kota ini betul-betul fans sejati dari Bambang Pamungkas ya”, teman saya menimpali, “Lah kok bisa?”, “lihat saja semua plat nomor kendaraan disini, semuanya berawalan BP”, celoteh saya. Tak ayal semua pun tertawa.

Lalu ketika baru sampai di asrama rumah sakit. Kami keluar untuk mencari makan. Sampailah kami di sebuah warung, memesan makan dan minum juga. Ketika ada salah seorang teman saya pesan es teh, kontan penjaga warung bilang. “teh obeng ya mas?”, hah, teh obeng. Teman saya bilang sekali lagi, “Es teh saja bu”. ibu-ibu penjual nasi itu pun bercanda lagi, “Orang jawa ya mas? Disini kami tidak menyebutnya es teh, kami menyebutnya teh obeng”, seketika itu kami semua tertawa. Kami pikir teh obeng nanti kalau mengaduk pake obeng dan tersaji dengan obeng di dalam gelasnya. Lalu ibu itu bercerita juga teh panas juga tidak ada, adanya teh O. sejak saat itu, kosakata kami bertambah, di Batam tidak ada es teh maupun teh panas, adanya teh obeng dan teh O. hehe. Inilah budaya kawan, tiap tempat punya ciri khasnya masing-masing.

Ini juga yang kemudian menjadi awal pembeajaran saya untuk beradaptasi. Sebagaimana es teh yang kemudian menjadi teh obeng, ketika masuk lingkungan kerja pun, saya langsung dihadapkan pada perbedaan budaya yang mencolok. Ketika dulu masih berstatus sebagai mahasiswa, paling jauh saya praktik sampai ke Purwokerto, Jawa tengah bagian barat. Memang perbedaan ada, namun tidak sampai mengakibatkan culture shock. Berbeda dengan disini. Saya bekerja dalam lingkungan yang di dalamnya terdapat orang Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Betawi, Padang, Medan, Manado. Mau tidak mau. Saya pun harus segera beradaptasi. Memang butuh waktu, namun Alhamdulillah itu semua bisa terlewati.

Saya hanya berkeyakinan, jika saya tidak bisa melewati hal-hal seperti ini disini (adaptasi dengan berbagai budaya-red), saya tidak yakin untuk bisa melangkah ke jenjang yang lebih jauh lagi. Jadi saya harus bisa membaur dengan berbagai budaya dan keadaan.

Bekerja di perantauan, tidak hanya bertujuan untuk mempertajam keahlian di bidang yang saya tekuni, yaitu keperawatan khususnya di kamar bedah. Namun juga bagaimana meningkatkan keahlian berkomunikasi dengan lingkungan baru serta orang-orang dengan berbagai budaya yang berbeda.

Layaknya teh obeng yang manis dan dingin, tentu saja mengaduknya tetap pakai sendok, tidak perlu memakai obeng apalagi linggis !!!. Hehe

O.R Nurse

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: