Malam Yang Terus Mendekati Pagi

3 Mei

#Turn On 6

Dini hari ini, entah mengapa saya belum bisa memejamkan mata. Segera saja saya mengambil air wudlu lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Alhamdulillah hati menjadi lebih tenang. Lalu saya membuka netbook. Jari-jemari pun saya biarkan menari bebas.

Terkadang keinginan untuk menulis itu ada setiap saya jauh dari benda-benda yang bisa dijadikan sarana menulis, entah itu pena, pensil, atau netbook ku. Namun setiap kali saya memegang sarana untuk menulis, seketika itu pula saya merasa tidak tahu apa yang harus ditulis. Apakah ini hanya melanda diri saya sendri atau memang ada orang lain yang mengalaminya juga.

Ada seorang mentor pernah berkata, “Tulis apa saja terserah, tulislah sampai kamu benar-benar bosan menulis. Kalau bosan menulis, terus menulislah, sampai kebosanan itu menyerah pada dirimu, sampai kebosanan itu menyerah dan akan berpikir ulang untuk menyerangmu”. Ini sependapat dengan apa yang saya pikirkan. Sejalan dengan apa yang sering saya lakukan, “kerjakan saja, perbaiki sambil jalan”.

Dini hari ini, masih dengan keyboard pada netbook yang kecil namun telah menemani kehidupan saya hampir 4 tahun. Menemani selama kuliah, mengerjakan tugas demi tugas, memudahkan dalam membuat tugas akhir, atau sekedar menjadi media curahan hati dikala tidak ada orang yang mendengarkan keluh kesah. netbook yang hampir kemana saja menemani, tentu saja karena memang bobotnya ringan dan memudahkan untuk dibawa kemana saja.

Sungguh kalau benda yang saya pegang ini bisa berbicara, mungkin saya akan lebih mengerti apa yang menjadi kemauannya. Jika ia letih misalnya, ia bisa bilang, atau ingin diajak jalan kemana. Namun jika itu terjadi, saya mungkin orang pertama yang akan takut, hehe.

Yang jelas, hari ini benar-benar banyak berita duka yang saya dapat. Mulai dari kiriman Whatsapp dari grup teman-teman kuliah angkatan 2008, di Semarang, tempat saya mencari ilmu selama 3 tahun. Terjadi kecelakaan akibat bus yang rem nya blong, terakhir saya mendapatkan kabar ada 3 orang meninggal dunia serta belasan yang luka-luka. Entah mengapa saya merasa ada di dekat tempat kejadian tersebut. Mungkin karena dulu saya sering melewati jalan tersebut ketika hendak tugas praktik di rumah sakit, ketika pergi ke Masjid Agung Jawa Tengah, ketika pergi ke tempat saudara saya yang memang tidak jauh dari tempat kejadian perkara tersebut.

Lalu ada 2 tempat lagi di Semarang yang terjadi kecelakaan, entah apa yang hendak disampaikan oleh Sang Maha Kuasa dengan berbagai kejadian ini. Yang jelas, ini merupakan suatu peringatan dan pelajaran yang harus segera dicerna oleh kita semua.

Maaf kalau saya menulis ini dengan nada yang sendu. Saya hanya ingin berbagi atas hal yang saya alami dengan pembaca sekalian.

Lalu berawal dari pesan singkat dari adik kelas saya kemarin malam. Isinya kurang lebih, mohon doa karena salah seorang guru kami di Almamater Nahdlatul Muslimin dulu. Tempat saya belajar semasa MTs dan MA. Sekarang sedang dirawat di ruang perawatan kritis karena berbagai penyakit yang dialami. Belum sempat saya menanyakan kabar selanjutnya, sore tadi saya dihubungi oleh Ibu saya lewat handphone, mengabarkan bahwa beliau sudah meninggal. Innalillahi Wainna Ilaihi Raaji’un, semua yang diciptakan Allah pasti akan kembali kepadaNya. Saya diminta oleh ibu saya untuk melaksanakan shalat ghaib serta mendoakan beliau. Alhamdulillah sudah saya laksanakan.

Guru yang pernah membimbing saya dan teman-teman seangkatan belajar tentang menulis khot, menulis indah dalam bahasa arab, tahun 2003, lalu kami diajari berbagai hal, menyenangkan dan penuh edukasi. Dan beberapa jam yang lalu, beliau sudah dipanggil oleh Yang Maha Pencipta. Semoga Allah memudahkan segala urusan guru saya dan para korban kecelakaan yang meninggal.

Terkadang kita terlalu bising dengan berbagai obrolan yang bernada kompetisi duniawi. Mengejar segala apa yang ada tapi melupakan kewajiban utama sebagai seorang manusia. Yaitu Beribadah kepadaNya. Sering yang menjadi tolok ukur adalah, berapa banyak dan canggih gadget yang dimiliki, berapa luas rumah yang ditempati, berapa mobil yang dikendarai, berapa perabotan yang setiap bulan diganti. Entah tontonan apa disaksikan sehingga menjadi sebuah tuntunan. Menjadi sebuah gaya hidup. Inilah perbedaan, dibalik setiap perbedaan pasti ada hikmah yang bisa dipetik, diambil pelajaran.

Meminjam kata-kata Bapak Novel Baswedan, “Bila dunia mulai menarik bagimu, dan akhirat terasa jauh darimu. Pejamkanlah mata, dan ingat kegelapan yang menanti di kubur”

Mari kita berdoa dan minta didoakan sesama kaum muslim. Berdoa, terutama mendoakan bapak ibu kita. Rabbighfirlii Waliwaa Lidayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayaanii Shaghiiraa Walilmu’miniina Amiin.

O.R. Nurse

Arsyad Syauqi

Catatanarsyadsyauqi.wordpress.com

Malam Yang Terus Mendekati Pagi

#Turn On 6

Dini hari ini, entah mengapa saya belum bisa memejamkan mata. Segera saja saya mengambil air wudlu lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Alhamdulillah hati menjadi lebih tenang. Lalu saya membuka netbook. Jari-jemari pun saya biarkan menari bebas.

Terkadang keinginan untuk menulis itu ada setiap saya jauh dari benda-benda yang bisa dijadikan sarana menulis, entah itu pena, pensil, atau netbook ku. Namun setiap kali saya memegang sarana untuk menulis, seketika itu pula saya merasa tidak tahu apa yang harus ditulis. Apakah ini hanya melanda diri saya sendri atau memang ada orang lain yang mengalaminya juga.

Ada seorang mentor pernah berkata, “Tulis apa saja terserah, tulislah sampai kamu benar-benar bosan menulis. Kalau bosan menulis, terus menulislah, sampai kebosanan itu menyerah pada dirimu, sampai kebosanan itu menyerah dan akan berpikir ulang untuk menyerangmu”. Ini sependapat dengan apa yang saya pikirkan. Sejalan dengan apa yang sering saya lakukan, “kerjakan saja, perbaiki sambil jalan”.

Dini hari ini, masih dengan keyboard pada netbook yang kecil namun telah menemani kehidupan saya hampir 4 tahun. Menemani selama kuliah, mengerjakan tugas demi tugas, memudahkan dalam membuat tugas akhir, atau sekedar menjadi media curahan hati dikala tidak ada orang yang mendengarkan keluh kesah. netbook yang hampir kemana saja menemani, tentu saja karena memang bobotnya ringan dan memudahkan untuk dibawa kemana saja.

Sungguh kalau benda yang saya pegang ini bisa berbicara, mungkin saya akan lebih mengerti apa yang menjadi kemauannya. Jika ia letih misalnya, ia bisa bilang, atau ingin diajak jalan kemana. Namun jika itu terjadi, saya mungkin orang pertama yang akan takut, hehe.

Yang jelas, hari ini benar-benar banyak berita duka yang saya dapat. Mulai dari kiriman Whatsapp dari grup teman-teman kuliah angkatan 2008, di Semarang, tempat saya mencari ilmu selama 3 tahun. Terjadi kecelakaan akibat bus yang rem nya blong, terakhir saya mendapatkan kabar ada 3 orang meninggal dunia serta belasan yang luka-luka. Entah mengapa saya merasa ada di dekat tempat kejadian tersebut. Mungkin karena dulu saya sering melewati jalan tersebut ketika hendak tugas praktik di rumah sakit, ketika pergi ke Masjid Agung Jawa Tengah, ketika pergi ke tempat saudara saya yang memang tidak jauh dari tempat kejadian perkara tersebut.

Lalu ada 2 tempat lagi di Semarang yang terjadi kecelakaan, entah apa yang hendak disampaikan oleh Sang Maha Kuasa dengan berbagai kejadian ini. Yang jelas, ini merupakan suatu peringatan dan pelajaran yang harus segera dicerna oleh kita semua.

Maaf kalau saya menulis ini dengan nada yang sendu. Saya hanya ingin berbagi atas hal yang saya alami dengan pembaca sekalian.

Lalu berawal dari pesan singkat dari adik kelas saya kemarin malam. Isinya kurang lebih, mohon doa karena salah seorang guru kami di Almamater Nahdlatul Muslimin dulu. Tempat saya belajar semasa MTs dan MA. Sekarang sedang dirawat di ruang perawatan kritis karena berbagai penyakit yang dialami. Belum sempat saya menanyakan kabar selanjutnya, sore tadi saya dihubungi oleh Ibu saya lewat handphone, mengabarkan bahwa beliau sudah meninggal. Innalillahi Wainna Ilaihi Raaji’un, semua yang diciptakan Allah pasti akan kembali kepadaNya. Saya diminta oleh ibu saya untuk melaksanakan shalat ghaib serta mendoakan beliau. Alhamdulillah sudah saya laksanakan.

Guru yang pernah membimbing saya dan teman-teman seangkatan belajar tentang menulis khot, menulis indah dalam bahasa arab, tahun 2003, lalu kami diajari berbagai hal, menyenangkan dan penuh edukasi. Dan beberapa jam yang lalu, beliau sudah dipanggil oleh Yang Maha Pencipta. Semoga Allah memudahkan segala urusan guru saya dan para korban kecelakaan yang meninggal.

Terkadang kita terlalu bising dengan berbagai obrolan yang bernada kompetisi duniawi. Mengejar segala apa yang ada tapi melupakan kewajiban utama sebagai seorang manusia. Yaitu Beribadah kepadaNya. Sering yang menjadi tolok ukur adalah, berapa banyak dan canggih gadget yang dimiliki, berapa luas rumah yang ditempati, berapa mobil yang dikendarai, berapa perabotan yang setiap bulan diganti. Entah tontonan apa disaksikan sehingga menjadi sebuah tuntunan. Menjadi sebuah gaya hidup. Inilah perbedaan, dibalik setiap perbedaan pasti ada hikmah yang bisa dipetik, diambil pelajaran.

Meminjam kata-kata Bapak Novel Baswedan, “Bila dunia mulai menarik bagimu, dan akhirat terasa jauh darimu. Pejamkanlah mata, dan ingat kegelapan yang menanti di kubur”

Mari kita berdoa dan minta didoakan sesama kaum muslim. Berdoa, terutama mendoakan bapak ibu kita. Rabbighfirlii Waliwaa Lidayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayaanii Shaghiiraa Walilmu’miniina Amiin.

O.R. Nurse

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: