Hidup di Negeri Prabayar

3 Mei

#Turn On 4

Prabayar, hampir kata ini sudah sangat familiar di telinga kita. Namun, ada hal yang bisa kita diskusikan dan diambil pelajaran dari hal ini. Kata prabayar sering kita jumpai pada saat mengisi ulang pulsa untuk HP maupun telepon rumah. Lalu sekarang, Perusahaan plat merah PLN pun mempunyai program prabayar, tentu saja ini bertujuan baik. Orang-orang yang terbiasa berlebihan dalam menggunakan listrik bisa berfikir ulang. Yang biasanya pascabayar, mereka kan menggunakan sesukanya dulu, baru bontot-bontotnya, tagihannya menjadi gak karuan. Dan orang-orang bertipe seperti ini, biasanya nunggak alias telat membayarnya. Walhasil, PLN yang menanggung kerugiannya. Perusahaan sudah banyak merugi gara-gara banyak pembangkit listrik yang salah makan. Masih banyak mendapat tekanan dari orang-orang di Senayan, mempersoalkan masalah yang seharusnya sudah mereka ketahui. Ditambah lagi para pelanggan yang setia nunggak pembayaran tagihan. Dan program listrik prabayar pun menjadi salah satu solusinya.

Kalau program listrik prabayar ini bertujuan positif. Bagaimana dengan kesehatan prabayar di negara ini. Lhah, apa pula kesehatan prabayar?.

Teringat diskusi dengan salah seorang guru saya yang berasal dari negeri kincir angin. Ia bercerita tentang negaranya dan kesehatan penduduknya yang dijamin. Awal diskusi, kami membicarakan masalah iklan rokok. Coba anda perhatikan, iklan rokok di negeri ini. Betapa iklan ini menjadikan orang yang merokok itu akan menjadi hebat. Menjadi seseorang yang wiiih, mantap lah pokoknya.

Slogan-slogan mereka luar biasa kreatif. Tidak heran jika smoker di negeri ini luar biasa banyak. Memang benar, masih ada peringatan di setiap bungkus rokok itu, “merokok dapat menyebabkan ini, itu, bla, bla,…” yang pasti saya yakin banyak dari anda sudah mengetahuinya. Iklan di media elektronik, media cetak, baliho, spanduk, rasanya kita sudah tidak asing lagi. Nah, bagaimana di Belanda sana. Guru saya bercerita kalau disana, pemerintah melarang adanya iklan rokok, dalam bentuk apapun!. Kalau mau merokok, silahkan saja, tapi tetap ada tempat-tempat tertentu yang boleh dijadikan ajang merokok.

Apakah iklan sedemikian efektif, apa kaitannya dengan kesehatan prabayar, sabar, saya lanjutkan. Jika iklan-iklan itu sudah sedemikian gencarnya menyerang pemikiran kita, lama-lama pikiran kita akan menjadi terbiasa, menjadi tidak asing. Ditambah dukungan para active smoker yang senantiasa berkebul-kebul disana sini. Lalu apa dampaknya?, tentu saja berbagai masalah kesehatan akan timbul. Dan ujung-ujungnya, tempat-tempat pelayanan kesehatan akan menjadi persinggahan terakhir para korban rokok ini.

Masih tidak menjadi masalah jika para korban ini mempunyai dana untuk berobat. Yang jadi masalah kan kalau tidak punya. apa rumah sakit mau menerima jika tidak membayar dahulu atau minimal ada yang dijaminkan. Nah, ketemu dengan kata prabayar kan. Masuk rumah sakit pun, bayar dulu, berobat kemudian. Kalau belum bisa bayar, maaf, maaf saja ya.

Itu untuk kasus kronis (misal penyakit yang baru terjadi dalam jangka waktu yang lama, misal kanker, gagal ginjal, dll), masuk rumah sakit pun harus ada prabayar nya. Bagaimana kalau kasusnya emergency?, misal ada kecelakaan, terjadi perdarahan otak, masuk rumah sakit, harus dioperasi cito, namun keluarga tidak mampu membayar. Apakah harus diikhlaskan saja?.

Berbeda dengan di Belanda, disana kesehatan dijamin. Misal ada orang sakit datang ke rumah sakit. Yang utama ia harus dilayani dulu, sampai sembuh, sampai ia membaik. Baru ia diminta mengurusi tagihannya. Misalnya ia tidak mampu melunasi, maka pihak rumah sakit yang bertanggung jawab mencarikan dana dari pemerintah untuk menutupi segala tagihan orang tersebut. Nah, gimana kurang baik coba kalau seperti ini. Sistem apa yang harus diperbaiki di negara ini supaya tidak ada lagi kesehatan prabayar?

Membayar dulu baru berobat. Memang sudah tidak asing di kehidupan kita. Namun menjaga kesehatan sendiri dan tidak membuat sakit orang lain juga penting. Jika para perokok bilang, “saya punya hak untuk merokok”, maka kita pun juga harus bilang, “saya juga punya hak untuk menghirup udara bersih yang bebas dari asap rokok”.

Mari mendewasakan diri dengan menjaga kesehatan serta tetap adem dalam bertoleransi. Kalau perlu, ilmu “Intervensi sosial” nya pak Jokowi wajib diajarkan kepada semua orang, tidak hanya sebatas mereka yang duduk di bangku sekolah saja.

Dan untuk masa depan kita, belajar pun juga wajib menjadi syarat, ini adalah sebuah tindakan prabayar untuk kehidupan kita kelak. Pahit, memang pahit dirasa. Seperti ucapan Mohammad Ali kala itu, “Aku benci setiap menitnya untuk berlatih, namun kataku, jangan menyerah. Bersusah-sudah dahulu dan aku akan menikmati sisa hidupku sebagai seorang juara”.

Nah, ada ide lain tentang kata prabayar di pikiran anda?

O.R. Nurse

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: