Beliau “Pulang” Dini Hari Tadi

26 Apr

#Turn On 3

Hidup, mati, dan jodoh, memang benar faktanya hanya Allah lah yang tahu. Begitu juga dengan kabar yang membuat banyak orang merasa kaget hari ini. Innalillahi Wainna ilaihi Raaji’un, telah berpulang ke Rahmatulah. Beliau Ustadz Jeffry Al Buchory atau yang lebih kita kenal dengan Uje, telah berpulang kepadaNya dalam usia 40 tahun. Allahummaghfirlahuu warhamhu wa’afihi wa’fua’anhu, amin.

Saya pribadi memang belum pernah bertemu dengan beliau secara langsung. Namun saya menyukai ceramah dan kepribadiannya. Melalui acara U2 (Uje dan Udin) yang saya pernah lihat secara rutin setiap hari minggu, pukul 07.30 sampai 08.00, saya banyak belajar dari beliau. Saya tidak melihat latar belakang masalah harta yang beliau miliki, yang saya lihat adalah beliau itu humble, cara bicara serta perilakunya. Saya mengerti orang berilmu sekaliber beliau pasti mengerti dengan sangat baik bagaimana memperlakukan harta. Bukan foya-foya tujuannya, harta dijadikan kendaraan untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha pencipta.

Terkadang kita sering iri terhadap harta yang dimiliki orang lain. Sementara kita tidak punya. Kita merasa susah ketika orang lain senang, lalu merasa senang ketika orang lain susah. Ini penyakit, harus segera kita sembuhkan. Semakin bertambahnya orang-orang sholih yang dipanggil Allah, ini adalah suatu pelajaran dan peringatan bagi kita semua.

Apakah semua yang pikir kita usahakan di dunia ini akan dibawa ke liang lahat?. Uang, kendaraan, rumah, perhiasan, apakah akan disandingkan dengan jenazah kita nantinya?. Lalu mengapa kita sampai ngotot untuk mendapatkan semua itu. Sampai-sampai lupa menunaikan kewajiban 5 waktu. Sudah cukup memiliki harta namun enggan bersedekah. Boro-boro sedekah, zakat fitrah yang setahun sekali saja sering lupa, padahal setahun sekali. Apa yang menyebabkan diri kita ini begitu hitamnya sehingga dengan mudah melupakan siapa sebenarnya yang menciptakan kita.

Uje, pribadi yang membaktikan dirinya untuk umat. Berdakwah dengan jenaka namun tetap berada pada koridor etika. Lantunan Al Qur’an yang terdengar dari beliau, Subahanallah, bacaan tajwidnya tertata. Saya pernah punya keinginan untuk bertemu dengan beliau. Saya sangat merindukan acara beliau setiap hari minggu, hanya ketika saya tidak sedang jaga di rumah sakit, Insyaallah saya selalu menyempatkan diri untuk menimba ilmu dari beliau. Mengajar lebih terasa sebagai teman, tidak serta merta kita merasa digurui. Karena sejatinya manusia memang diwajibkan belajar dari dilahirkan sampai dipanggil lagi untuk menghadapNya.

Kata-kata yang sering diucapkan beliau adalah untuk selalu ingat kepada Allah. Dalam acara di bulan Ramadhan kemarin, beliau bilang, “berbuatlah sebaik-baiknya dalam Ramadhan tahun ini seakan ini yang terakhir, belum tentu kita bisa bertemu Ramadhan tahun depan”. Sungguh sangat terasa maknanya ketika beliau sudah tiada, sungguh dalam maknanya ketika dirasakan pada saat ini.

Uje dikenal dengan pribadi yang sangat tidak kenal lelah. Hidupnya adalah untuk Yang Maha Hidup.

Ini adalah pesan terakhir Uje lewat akun twitternya, “Semua akan menemukan yg namanya titik jenuh. Dan pada saat itu..Kembali adalah yg terbaik.Kembali pada siapa..??? Kpd “DIA” pastinya. Bismi KA Allohumma ahya wa amuut,”

Semoga kami bisa meneladani semua kebaikanmu Ustadz. Engkau adalah milikNya, dan KepadaNya lah Engkau akan kembali. Semoga Allah memberikan RidhoNya kepadamu Ustadz. Amiin

O.R. Nurse

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: