“Telah tertulis” //bagian kesepuluh//

24 Feb

pagi yang cerah

angin berhembus pelan
mentari masih malu untuk keluar
suasananya sejuk masih dengan dedaunan yang masih meneteskan embunnya
gadis belia itu keluar dari kamarnya
kamar kos di dekat kampus
yang jauh dari kota asalnya
Kinanthi
menikmati udara pagi
sambil menggerakkan anggota badannya
sambil berolahraga
melihat alam sekitar yang penuh keajaiban penciptaan Sang Pencipta
….
Kinanthi
perempuan yang masih belia
dengan pemikiran yang sudah dewasa
pernah ia menalami kebingungan juga
setelah lulus SMA ia mau kemana
apakah langsung bekerja saja
untuk meringankan beban orang tuanya
ataukah meneruskan pendidikannya
ke jenjang selanjutnya
ia tahu dan mengerti keadaan keluarganya kala itu
namun ia juga tahu orang yang punya ilmu akan bisa berbuat lebih
ia melihat di daerah sekitarnya
banyak anak muda yang putus belajarnya
bahkan yang masih tergolong belia
tidak selesai sekolahnya
kebanyakan karena faktor biaya
lalu mereka bekerja sebagai peminta-minta
di perempatan jalan raya
di lampu merah tempat pemberhentian kendaraan
….
kalaupun ditanya tentang pilihan mereka
mereka tetap ingin bersekolah saja
menuntut ilmu itu lebih indah daripada meminta-minta
namun apalah daya
sekali lagi, lantaran biaya yang tidak ada
….
melihat kondisi di sekitarnya
semenjak masih SMA
Kinanthi sudah menentukan pilihan selanjutnya
ia ingin melanjutkan kuliahnya di jalur pendidikan
agar ia bisa membantu lingkungannya terbebas dari kondisi yang sedemikian rupa
ia ingin menjadi seorang Guru
guru yang memiliki banyak keahlian
yang memilki kemampuan pendekatan kelilmuan
yang bercita-cita membuat sekolah gratis bagi anak-anak yang kurang beruntung
lantaran biaya
….
ia sampaikan pandangannya pada kedua orang tuanya
ia ingin kuliah di Universitas pendidikan negeri
selain tujuannya bisa tercapai
biaya kuliahnya juga bisa ditekan
walaupun dalam kondisi pas-pasan
orang tuanya mendukungnya
setelah keputusan diambil
segala hal ia persiapkan
mulai dari pendaftaran sampai ujian masuk perkuliahan
alhamdulillah semua dilancarkan OlehNya
….
Kinanthi berketetapan hati
ia harus bisa memaksimalkan umurnya untuk kebaikan
belajar dan memberi kepada sesama
ia tidak ingin terlena dengan hingar bingar dunia
bermain dan bercanda memang tidak ada salahnya
tapi itu semua jangan sampai mengalahkan kewajiban yang ada
ia hanya khawatir
umur yang dianugerahkan kepadanya sia-sia
ia tidak bisa mempergunakan sebagaimana mestinya
Kinanthi pernah membaca
Umur itu bagaikan sebuah balok es
digunakan ataupun tidak digunakan
ia akan tetap mencair
sebagaimana umur yang diberikan kepada setiap manusia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: