“Rumput tetangga lebih hijau, Biarlah”

10 Feb
 
 
 

terasa atau tidak terasa
kita sulit menghadirkan hati
dalam setiap perbuatan kita
setiap hal yang kita lakukan terasa hampa
tidak berasa
hambar
tidak ada rasanya
sering dan sering dalam hal ini
kita sulit menemukan penyebabnya
….
kita punya hati
tapi tidak untuk merasakan diri kita
lebih sering untuk merasakan rasa orang lain
merasakan bahagianya orang lain
merasakan kekayaan orang lain
merasakan kenikmatan orang lain
merasakan keberhasilan orang lain
sementara yang ada pada kita
sering kita lupakan
sering kita lewatkan
sering tidak kita rasakan
sering kita anggap tidak ada
….
sering beranggapan
orang lain lebih dari kita
orang lain diberi lebih banyak dari kita
orang lain ini
orang lain itu
orang lain begini
orang lain begitu
tidak akan pernah ada ujungnya
tidak akan pernah ada habisnya
lama kelamaan
hati ini menjadi bebal
lalu tak bisa merasa lagi
tidak bisa merasa segala yang ada pada diri kita
perlahan-lahan kita mulai membohongi diri sendiri
hati mulai bohong
pada diri ini
….
kalau terus melihat bahwa
rumput tetangga lebih hijau
maka kita tidak akan sempat melihat
pohon-pohon yang telah kita tanam di pekarangan kita
apa kabarnya pohon-pohon itu?
masih kita rawatkah?
masih kita siram air kah?
masih kita beri pupuk kah?
kalau terus melihat rumput tetangga
pohon-pohon ini akan semakin layu
akan meranggas
tak ayal tinggal menunggu waktu untuk roboh
robohnya kemana?
kita sendiri yang tahu
….
terlalu sibuk dalam hari-hari kita
memikirkan rumput tetangga
kita lupa pada kebutuhan sendiri
hati kita lupa untuk merasakan diri ini
kita kehilangan tujuan
sehingga tak ada motivasi
jasad kita utuh
tapi ruh kita seakan telah pergi
tubuh ini seperti mayat hidup
yang berjalan kesana kemari
….
Rumput tetangga lebih hijau
Biarlah
mari kita kembali melihat diri ini
kita rawat pohon-pohon yang telah kita tanam sedari dulu
kita curahkan kasih sayang
kita beri semangat hidup lagi
sehingga ia kembali menjadi hijau
akarnya dalam, batangnya kuat, serta berdaun lebat
dan menghasilkan buah yang manis kelak
buah termanis setelah perjuangan yang panjang

 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: