“Kembali”

6 Feb
 
 
 

bagaimana rasanya jika kita
tesedot dalam lorong waktu
kembali ke suatu masa lalu
saat kita masih kecil
belum tahu apa-apa
belum mengenal siapa-siapa
hanya orang tua yang ada
menemani siang malam
memberikan kasih sayang
memberikan perlindungan
senang dengan celotehan kita
suka menggoda kita
mengangkat tubuh kita
mempermainkannya di di udara
naik turun
lalu kita tertawa-tawa
kita tersenyum riang
dengan gigi yang masih jarang
dan mereka pun senang
….
kembali ke suatu masa
dimana orang tua membisikkan mimpi-mimpi mereka
membisiki cerita tentang impian di telinga kita
telinga yang masih mungil
mereka berharap
mereka mendoakan
apapun mereka lakukan
apapun mereka korbankan
….
cahaya terang kembali samar
keadaan gelap lalu datang
tiba-tiba
kita tersedot kembali
ke lorong waktu
menghantarkan kita ke masa sekarang
ke keadaan sekarang
apakah kita masih teringat
tentang bisikan di masa lalu itu
cerita tentang impian di masa lalu itu
apakah kita masih ingat dan memperjuangkannya
ataukah hanya sebatas dongeng nina bobo belaka
bagaimana jika kita diamanati oleh sang Pencipta
dititipi putri putra juga
akankah kita melakukan hal yang sama
padahal kita belum melakukan apa yang diinginkan orang tua
masih memikul tanggung jawab masa lalu
tapi sudah ingin membisikkan impian terhadapa masa depan
terhadap putri putra kita
….
bola yang dilempar mengenai tembok
akan memantul sama jauhnya dengan lemparan pertama
aksi sama dengan reaksi
hukum enstein ke tiga
akankah berlaku kepada hal ini?
….
apa yang kita lakukan sekarang
akankah berdampak di masa depan
ataukah tidak sama sekali
apa kita lakukan dengan sungguh-sungguh
akankan bermanfaat kepada kita
ataukah tidak sama sekali
apa yang kita kerjakan
apa yang kita fikirkan
apa yang kita berikan
apa yang kita korbankan
apa yang kita
apa yang
apa
….
pertanyaan demi pertanyaan menggelayut
menghisasi dinding kepala seseorang
menjadikan misteri yang harus diselesaikan
misteri kehidupan
kehidupan seseorang
yang selalu mengasah kemampuan berfikirnya
yang tidak mau stagnan
tenggelam dalam pemkiran yang tidak mau maju
ia terus mengasahnya
hingga suatu saat
akan setajam pisau
yang mampu membelah rambut
menjadi tujuh

 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: